Analisis Puisi Tragedi Winka dan Sihka Karya Sutardji CalzoumBachri

Menganalisis puisi karya dari  Sutardji CalzoumBachri yang berjudul "Tragedi Winka dan Sihka" sebagai berikut :

Puisi :
Tragedi Winka dan Sihka

kawin
           kawin
                      kawin
                                 kawin
                                            kawin
                                                       ka
                                                 win
                                              ka
                                      win
                                  ka
                           win
                      ka
              win
         ka
 winka
              winka
                           winka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sihka
                                                                      sih
                                                                  ka
                                                             sih
                                                        ka
                                                   sih
                                               ka
                                          sih
                                      ka
                                 sih
                             ka
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          sih
                                                               ka
                                                                   Ku

Analisis Puisi : 

A. UnsurIntrinsik

  • Diksi
Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin.

Dalam Tragedi Winka dan Sihka hanya dapat ditemui empat suku kata: ka, win, sih, dan Ku. Dengan keempat suku kata tersebut, terbentuklah delapan kata: kawin, winka, sihka, ka, win, sih, dan Ku yang beberapa di antaranya merupakan kata-kata baru hasil pembebasan kata oleh Sutardji yang dalam hal ini adalah dengan membiarkan kata membolak-balikkan dirinya dan alhasil tentu saja tidak akan kita temukan kata tersebut jika kita mencarinya di kamus dan kata baru tersebut pun memiliki makna tersendiri. Dan logika pemaknaannya dimungkinkan sebagai berikut: ketika sebuah kata utuh, sempurna seperti aslinya, maka arti dan maknanya pun sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya pun terbalik, berlawanan dengan arti kata aslinya. Contohnya, kata Tuhan kalau dibalik menjadi hantu, artinya berlawanan. Tuhan itu sesembahan manusia, hantu itu musuh manusia. Tuhan itu Maha Pengasih, hantu itu jahat. Dalam kata “kawin” terkandung konotasi kebahagiaan, sedangkan “winka” itu mengandung makna kesengsaraan. “Kawin” adalah persatuan, sebaliknya “winka” adalah perceraian. “Kasih” itu berarti cinta, sedangkan “sihka” kebencian. Bila “kawin” dan “kasih” menjadi “winka” dan “sihka” itu adalah tragedi kehidupan. Targedi mulai terjadi ketika “kawin” dan “kasih” yang karena suatu ujian hidup dsb. tidak bisa dipertahankan lagi hingga berubah menjadi winka dan sihka (perceraian dan kebencian) dan terpecah menjadi sih – sih, kata tak bermakna, yang menunjukkan hidup menjadi sia-sia belaka. Cobaan itu kembali datang yang benar-benar memisahkan antara ka dan sih. Keduanya benar-benar hidup sendiri yang akhirnya perkawinan tersebut berujung pada sebuah kematian.
  • Pengimajian
Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan indera penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
  • Kata Konkret
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus diperkonkret. Maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menuju pada arti yang menyeluruh. Kata yang diperkonkret erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang. Hal ini biasanya terbentuk menjadi suatu narasi.
Pada puisi ini, pengulangan kata “kawin” dari baris pertama hingga kelima lalu dilanjutkan baris selanjutnya masing-masing ka, win, ka, win dan seterusnya menunjukkan pada kita akan sebuah perjalanan kehidupan yang berawal dari sebuah perkawinan.
  •  Bahasa figuratif
Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.
Namun dalam puisi Tragedi Winka dan Sihka ini tampaknya tidaklah mengandung bahasa figuratif. Sebaliknya, untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, pengarang membolak-balikkan kata sehingga tersiratlah suatu makna tersendiri sesuai dengan yang diungkapkan oleh pengarang sendiri bahwa ia ingin “membebaskan kata”. Menurutnya, kata-kata dapat menciptakan, menemukan kemauan, dan bermain dengan dirinya sendiri dan terciptalah suatu kreativitas, salah satu caranya ya dengan membalik suatu kata.
  • Verifikasi
Verifikasi terbagi menjadi rima, ritma, dan metrum.
  1. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima terdiri dari aliterasi, asonansi, rima berangkai, berselang, berpeluk, dan sebagainya.
    Namun tampaknya pada puisi karya Sutardji ini tidaklah mengandung rima, baik itu rima aliterasi, asonansi, maupun disonansi karena setiap baris dalam puisi ini hanya terdiri dari satu kata saja.
  2. Ritma sangat berhubungan dengan bunyi irama dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat.
    Jika dihubungkan dengan pengertian di atas, maka puisi Tragedi Winka dan Sihka ini banyak mengandung ritma dan irama, yaitu pengulangan kata “kawin” lima kali berturut-turut masing-masing pada baris pertama hingga baris kelima, “sih” pada baris ke-31 hingga 36, dan “winka” pada baris ke-15 hingga 17, kata “sihka” pada baris ke-18 hingga 20, serta irama “ka” di setiap akhir baris ke-15 hingga 20.
  3. Metrum yaitu berupa pengulangan tekanan yang tetap.
  • Tipografi
Tipografi merupakan aspek bentuk visual puisi yang berkaitan dengan tata hubungan dan tata baris. Halaman tidak dipenuhi kata-kata hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

Tipografi puisi Tragedi Winka dan Sihka ini adalah bentuk zig-zag. Bentuk zig-zag tersebut merupakan tanda ikonik yang menggambarkan jalan yang berlika-liku. Dalam puisi ini juga terlihat adanya gelombang sangat tajam, tidak melengkung tapi langsung turun miring kekanan dan kekiri dengan begitu tajamnya. Maka, dengan tipografi demikian tersebut, puisi ini memiliki makna perjalanan sebuah perkawinan yang tidak mulus, tetapi penuh dengan liku-liku dan marabahaya. Kehidupan dalam puisi ini sangat tragis dan jika jatuh dalam sebuah masalah maka akan sangat jatuh dengan begitu tajamnya. Jika dilihat dari tingkatan kemiringannya, sangat terlihat bahwa masalah yang dialami tokoh semakin lama semakin sulit. Bentuk gelombang tajam ini menunjukkan pasang surutnya kehidupan.
  • Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair.
Tema puisi ini adalah perjalanan hidup yang sengsara, penuh lika-liku, dan marabahaya.
  • Perasaan
Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula.
  • Nada dan Suasana
Nada yaitu sikap penyair kepada pembaca, sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.
Nada dan suasana yang tercipta dalam puisi ini adalah kecarut-marutan kehidupan dan perasaan serta kesengsaraan.
  • Amanat
Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah memahami tema, rasa, nada puisi itu. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yangdisusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.
Amanat yang dapat dipetik dari puisi Tragedi Winka dan Sihka yaitu bahwa kehidupan ini tidak akan pernah sama. Roda akan selalu berputar, terkadang berada diatas terkadang di bawah. Kehidupan ini tidak akan selalu senang tapi juga susah, dan bergantung bagaimana cara kita menyikapinya.

B. UnsurEkstrinsik

  • Biografi Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri (lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni1941; umur 73 tahun) adalah pujanggaIndonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.
  • Makna Puisi
Puisi “Tragedi Sihka dan Winka” memang dimaksudkan untuk menggambarkan suatu keadaan dalam kehidupan nyata. Kata kawin, kasih, winka, sihka, ka – win, dan ka – sih, adalah tanda-tanda bermakna. Rachmat Joko Pradopo mengatakan “bila kata itu utuh, sempurna seperti aslinya, maka arti dan maknanya sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya pun terbalik, berlawanan dengan kata aslinya”. Dari pernyataan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam kata “kawin” terkandung konotasi makna kebahagiaan, sedangkan “winka” itu mengandung kesengsaraan. Kawin adalah persatuan, sebaliknya winka adalah perceraian. Kasih itu berarti cinta, sedangkan sihka itu kebencian. Kawin dan kasih adalah kebahagiaan, sedangkan winka dan sihka adalah kesengsaraan. Bila kawin dan kasih menjadi winka dan sihka, maka itulah tragedi kehidupan. Demikian pula dengan tipografinya yang menggambarkan jalan pengalaman berliku dan penuh bahaya.

Setelah membaca puisi Tragedi Sihka dan Winka yang menampilkan kata kasih dan kawin, hal yang dapat kita pahami adalah bagaimana rasa kasih sayang dapat menyatukan berbagai macam budaya dalam tali perkawinan. Sepatutnya kita berusaha menjaga rasa kasih sayang tersebut agar tidak patah, agar tidak berubah menjadi benci, agar tidak timbul berbagai macam tragedi serta jalan kehidupan yang berkelok-kelok dan menyengsarakan. Kasih sayang bukan sebab utama adanya perkawinan. Namun tanpa adanya kasih sayang, tidak akan ada perkawinan yang indah. Dengan menjaga rasa kasih sayang sesama manusia, bukan hanya perkawinan yang terselamatkan, namun seluruh aspek kehidupan manusia turut terjalin indah.
SHARE TO »

18 Responses to "Analisis Puisi Tragedi Winka dan Sihka Karya Sutardji CalzoumBachri"

  1. Salah. Concrete poetry berbicara tentang unsur formal baik secara verbal/aural/bunyi atau visual. Tidak ada hubungannya dengan makna sama sekali.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Pisi ter-LEGEND ��������

    ReplyDelete
  5. Follow ig guwehh @ameliaputtt17__

    ReplyDelete
  6. Njim isinya kok kawin 😂😂😂

    ReplyDelete
  7. Pada akhirnya "ku", kepasrahan kepada Tuhan atas takdirya.

    ReplyDelete
  8. Terima kasih sangat bermanfaat...

    ReplyDelete

-berkomentarlah dengan baik sesuai topik
-menaruh link aktif dianggap spam